Selasa, 19 Agustus 2008

Falsafah 2 Sisi Uang Logam

Jakarta, 18 Agustus 2008. Sering diantara kita (tidak termasuk yang baca-semoga) acuh-tak acuh terhadap pendapat orang lain & menjadikan diri kita adalah pendapat yang paling benar serta selalu menyepelekan 'lawan' kita, apalagi jika si 'lawan' adalah termasuk dari golongan lebih muda atau dia adalah bawahan kita. Bahkan ada kesan se-akan-akan "kamu tahu apa?? saya udah menjalani ini selama tahunan sebelum kamu disini!!".
Begitulah...kita (kadang di saya atau beberapa sharing-an dari temen saya masih pake kata-kata ini). Ach sungguh ternyata diantara kita masih saja terbuai akan kesombongan & keangkuhan dalam menjalani hidup.

Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan (mempertahankan pendapat) adalah mereka yang segera menyadari dan memperbaiki kesalahannya (pendapatnya) tanpa harus diingatkan oleh orang lain. Namum ada pula orang yang tidak sadar kalau dirinya berbuat (berpendapat) salah. Untuk itu diperlukan teguran dan koreksi dari orang lain. Agar dapat diterima dengan baik, maka diperlukan pengetahuan tentang berbagai adab dalam menegur dan meluruskan kesalahan. Tinggal HOW to-nya bagaimana??...yang tanpa meninggalkan sakit hati antara keduanya.

Untuk menyelami maksud dan alasan 'lawan' debat kita secara gambang mungkin saya contohkan dalam sebuah kepin uang logam (koin) dua sisi.

Filosofihnya adalah misal ada dua orang berseberangan (berhadap-hadapan) dan ditengah-tengahnya ditaruh koin uang logam yang diberdirikan (terlihat kedua sisi uangnya oleh kedua orang tersebut). Dan tanyakan ke mereka apa yang mereka lihat???
Niscaya satu orang akan bilang "yang saya lihat adalah gambar kepala orang" dan satu orangnya lagi akan bilang "yang saya lihat adalah angka nominal uang logam tersebut". Bisa jadi keduanya adalah benar & memang benar dari apa yang mereka lihat.
Nah dari filosofi uang koin inilah, dalam menyikapi permasalahan yang kita hadapi-cobalah untuk bertukar posisi dari segi sudut pandang mereka. Belum tentu juga mereka salah, dan tidak ada kepastian juga kalo kita adalah yang paling benar.

Ajak-lah mereka berpikir dari sisi kita dengan elegant (bukan arrogance) tanpa harus merasa diri paling benar. Sampaikanlah pendapat dengan santun, jika-pun sebenernya nyata-nyata pendapat dia 'salah' bukanlah suatu keharusan kita untuk tidak menghargai jalan pikirannya. Satu hal yang pasti kita hanyalah berusaha mendalami sisi uang logam lainya dan tetap berusaha menunjukan jalan yang benar yang sesuai dengan organisasi, aqidah ataupun petunjuk sang Khalik & Nabi Allah dengan data-data yang ada tanpa harus bersikap emosional & memaksakan kehendak.

Semoga bermanfaat,
Sube Thanks to : Allah Rabb kami, Baginda, my Sweetie & Saqeen, Ary-Pensehat Pusat (Thanks-atas ajaran filosofi-nya. Sampai ketemu di Touring selanjutnya) & semua temen2, guru-guru, malaikat langit serta MP/blog'ers yang selalu berbagi

Jumat, 15 Agustus 2008

Senyum Bentar Yook

Balada Si cadel


Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal di dekat rumahnya.
cadel:"bang, beli nasi goleng satu.
abang:"apa...?" (.....ngeledek.)
cadel:"Nasi Goleng!
abang:"Apaan...?(.....Ngeledek lagi.)
cadel:"Nasi Goleng!!!"
abang:"ohh nasi goleng..." Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal. Sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan "nasi goreng" dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar

Hari ke-2.
Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi
cadel:"bang...,saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!"
abang:"ohh...pake apa?"
cadel:"...pake telol..." Sambil sedih...
Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata "telor" sampai benar.

Hari ke-3.
Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut - turut makan nasi goreng:
cadel:"bang..., beli NASI GORENG, Pake TELOR!!! Bungkus!"
abang:"ceplok atau dadar ?"
cadel:"dadal..."
Dengan spontan.Kembali dia berlatih dengan keras.

Hari ke-4.
Dengan modal 4 hari berlatih lidah hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa.ditertawakan.
cadel:"bang...,beli NASI GORENG, Pake TELOR, di DADAR!"
abang:"hebat kamu "del, udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2500 del."
si cadel menyerahkan uang Rp.3000 kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya:
cadel: "bang.., kembaliannya?"
abang: "oh iya, uang kamu Rp.3000, harganya Rp.2500, kembalinya berapa del?" sambil senyum ngeledek. Si cadel gugup juga untuk menjawabnya, dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi.
Tapi akhirnya dia menjawab:"...GOPEK!" Sambil tersenyum penuh kemenangan


Dimana Kamar pak Yakub

Seorang kakek memasuki sebuah apartemen. Di pintu masuk ia bertemu seorang anak. “Nak,apakah engkau tahu kamar dimana Pak Yakub tinggal?” tanya sang kakek kepada anak tersebut.
Dengan ramah anak itu menjawab, “O, tahu Kek! Mari saya antarkan.”
Anak itu pun mengajak kakek itu naik tangga menuju lantai 10 dan membawanya ke depan kamar pak Yakub.
“Ini Kek… kamar apartemen Pak Yakub.”
Dengan napas yang masih tersengal-sengal sang kakek mengetuk pintu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban.
“Nak,sepertinya Pak Yakub tidak di rumah.”
“Betul Kek, Pak Yakub sedang berada di lantai satu menunggu tamunya.”

Selasa, 12 Agustus 2008